Feeds:
Posts
Comments

Word

There are times when I needed you most; when I have so many things to tell, yet word has failed me.
In such situation, I want you to stay next to me still.
I dont need any word,
I dont need the deep conversation,
I dont want to talk about how was my day,
or how was yours.
I dont want to talk about anything at all.
I just need you to be there with me,
because your presence is more than enough.
So dear, can you please do it for me?

Differences

Masih terekam jelas dalam ingatan saya, dulu waktu saya masih kecil, saya pernah melihat dengan takjub kepada sebuah bangunan besar megah berwarna putih yang tampak seperti kastil di mata saya,
“Ayah, itu bangunan apa?” Tanya saya pada ayah yang saat itu sedang menyetir.
“Itu rumah neraka. Kamu tahu kan apa itu neraka?”
Saya mengangguk kecil, “Bagaimana neraka bisa ada di dalam sebuah rumah? Apa di dalamnya ada api dan sebagainya?”
“Kalau kamu masuk ke dalam sana, kamu akan masuk neraka. Siapapun yang masuk kesana, akan masuk neraka,” Kali ini ibu saya yang menjawab.
Saya bergidik ngeri, sekaligus menyayangkan kenyataan bahwa bagunan semegah itu ternyata berisi kepedihan dan siksaan. Padahal sungguh indah bangunan itu!
Beberapa tahun kemudian, saya beranjak dewasa dan mulai mengetahui apa sebenarnya bangunan tersebut. Itu adalah sebuah tempat peribadatan. Bukan tempat peribadatan agama saya, tentu saja. Sebab kalau iya, orang tua saya tidak akan menyebut itu rumah neraka.
Selama bertahun-tahun saya menyimpan pengetahuan in dalam kepala saya : umat agama yang masuk ke dalam rumah itu akan masuk neraka; orang-orang yang masuk neraka adalah orang-orang jahat yang pantas di siksa; umat agama itu orang jahat yang tidak pantas masuk surga kami!
.
Sekarang, setelah banyak hal merubah pandangan saya mengenai agama dan toleransi, saya sering mencemooh betapa dulu orang tua saya “mengisi” saya dengan jawaban mengerikan nan penuh kebencian seperti itu. Sejujurnya, orang tua saya bukanlah pembenci umat agama lain, tidak, sungguh tidak. Orang tua saya mungkin hanya ingin saya tau saat itu, bahwa saya tidak boleh masuk ke dalam rumah peribadatan umat lain. Kenapa? Mungkin mereka takut saya terdoktrin macam-macam, atau mungkin mereka simply ingin saya mempertahankan agama saya yang sekarang; mencari tahu soal yang lain-lain nanti dulu kalau kamu sudah punya kemampuan dan dasar.
Tapi begitulah, toh ketika pada akhirnya saya tidak lagi menganggap rumah ibadah umat lain sebagai “rumah orang-orang jahat”, orang tua saya masih oke-oke saja.
.
Hari ini di kelas tadi, dosen saya membicarakan mengenai betapa pentingnya pendidikan toleransi dan penerimaan akan perbedaan serta pemberian berbagai sudut pandang di ajarkan sejak dini kepada anak-anak. Di Selandia Baru, misalnya, anak-anaknya sudah di ajarkan mengenai kaum maori, kultur dan bahasa mereka. Sehingga diharapkan si anak akan tumbuh dengan mengerti tentang kaum maori dan tidak menganggap mereka berbeda; tetapi mereka sama-sama manusia, hence potensi konflik dapat diminimalisir.
Sama halnya dengan yang terjadi di Swedia, sejak dalam sekolah taman kanak-kanak anak-anak ini sudah dibekali dengan ilmu toleransi, solidaritas dan equality; bukan hanya gender, tetapi juga kepada sesama. Berbagai organisasi Swedia juga mencoba pendekatan ini kepada anak-anak di Bosnia, mencoba mengenalkan perbedaan, dan betapa pentingnya berusaha untuk memahami dari kacamata lain.Beberapa teman saya di kelas tertawa dengan ide ini.
Beberapa mengiyakan, beberapa tidak peduli.
Seorang gadis melayangkan pikirannya kepada masa lalunya, ketika orang tuanya pertama kali mengenalkan dia tentang umat agama lain.
Menurut gadis itu, ide mengenalkan perbedaan sejak masa kanak-kanak bukanlah ide buruk, malahan, dia bertekad untuk mempraktekannya bila ia punya anak suatu hari nanti.
Dan ia percaya kemampuan menyerap anak-anak tidak bisa diremehkan begitu saja.
.
Saya jadi teringat artikel ini.
Saya kemudian menyimpulkan untuk diri saya sendiri bahwa saya akan tetap mengajari anak-anak saya tentang agama yang saya anut, dengan tidak lupa mengajarkan juga tentang banyaknya perbedaan yang ada, bahwa agama mereka bukan menawarkan kepedihan dan penyiksaan, bukan juga keburukan. Seperti saya percaya bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan. Dengan begini saya harap anak-anak saya mampu melihat dari kacamata lain dan tidak memandang sinis atau menyimpan benih kebencian terhadap agama, etnis, atau ras lain. Perbedaan bukan untuk disikapi dengan kebencian; melainkan dengan rasa saling pengertian.
.
Saya tidak tahu apakah cara saya ini yang terbaik atau tidak, atau apakah cara saya ini menyalahi aturan dari ajaran agama saya atau tidak, saya hanya bisa berharap niat baik akan menghasilkan hal yang baik pula.
.
Akhir kata, saya masih ingat lebaran tahun lalu percakapan antara orang tua saya dan adik saya;
“Ayah, orang-orang agama X itu jahat-jahat kan, Yah? Teman-teman aku bilang begitu, mereka kan nanti masuk neraka semuanya,”
“Bukan, adik. Teman kamu salah, tidak semua dari mereka jahat,”
“Tapi mereka semua nanti masuk neraka, kan?”
“Ya,”
“Berarti mereka smua jahat?”
Ayah saya terdiam, sulit menjawab. Akhirnya pembicaraan pun di alihkan dengan hal lain.
Saya tersenyum kecil, paling tidak ada hal-hal yang berubah seiring berjalannya waktu.
Dan pertanyaan ini, akan menjadi PR besar bagi saya untuk saya temukan jawabannya untuk anak-anak saya nanti! :D

..it was an episode I can’t laugh about.
An episode which took 2 years of mine.
.
In that episode, what you did mostly was running chase after me.
With me in the end of the path sulking and shouted
“Stupid! Whate the hell are you doing here?!”
Then I’ll get hurt everytime I see you run.
.
It was an episode where I was so stubborn for keep walking on and on
Wait for no one.
And you, stupidly stubborn for always chase after me in order to walk right beside me.
But I always in such hurry, didnt I?
.
In the end of the day, it was you who would run just to be with me, panting
while I blushed and again shouted “Stupid! You don’t have to run all the way just for me! I can wait for you,”
.
But I couldn’t. I never could, did I?
.
It was an episode I can’t laugh about.
Where finally I’m able to realize that we have different paces.
I can’t wait for you, I don’t want to.
And you shouldnt have chase after me either.
Otherwise, you would never be able to enjoy your own life, you know?
.
So, in this episode that I can’t laugh about,
I want you to stop now.

So that finally,
we will have “the end”.

Menye Tapi Tidak Pasaran

Perhatian, isi entry ini tidak ada yang penting.
Cuma mau bernarsis ria memamerkan lagu-lagu yang saya suka. :mrgreen:
.
Jadi, semalam saya dan Lambrtz ngobrol-ngobrol soal lagu-lagu menye. Saya memberikan lagu yang menurut saya cukup menye. Ternyata ybs bilang bahwa lagu tsb terlalu pasaran.
.
Jadi karena penasaran, maka saya mencari lagu-lagu yang saya suka (dan menye) dan tidak terlalu pasaran. Di bawah ini, adalah lagu-lagu yang menurut saya cukup menye tapi tidak terlalu pasaran.
.

Buat saya sih lagunya enak. Pertama kali dengar di radio mobil. Waktu itu lagi pas betul sama suasana hati :P
.

Yang ini lagunya pas banget waktu itu lagi naksir orang yang di ujung belahan bumi sana. Dengerin sekarang juga masih enak kok . :D
.

Yang ini gatau deh menye apa enggak.Yang jelas enak dan saya suka :lol:
.
Ya sudahlah, tiga saja.
Buat saya, lirik-lirik lagu ini enak kok, menyampaikan isi hati ;)

Alasan

“Kepada penumpang yang terhormat. Kereta akan sampai dalam beberapa menit. Silakan tunggu di belakang garis kuning. Persilahkan penumpang untuk turun terlebih dahulu, berhati-hatilah dan jaga barang anda,”

Aku tengah bersandar di dinding peron yang dingin sore itu.
Dengan mata lelah dan hati kosong.
Aku merasa sangat letih, akan kehidupan.
Aku ingin cepat sampai rumah dan istirahat.

Entah kenapa hari itu peron tidak seramai biasanya.
Aku mengedarkan pandang,
seorang bapak tua terkantuk-kantuk duduk di barisan ujung,
tiga cewek remaja tampak mengobrol santai dan sesekali terkikik geli,
seorang ibu tua dengan dua kantung plastik belanjaannya,
dua laki-laki yang tampaknya sebaya denganku, duduk terpisah, masing-masing sibuk dengan handphone dan mp3 playernya,
seorang gadis berdiri di garis kuning menatap kaku menunggu kereta,
lalu aku yang berdiri tak jauh darinya.

Aku kembali larut pada lamunanku ketika kudengar sayup-sayup kereta datang dari kejauhan.
Sang bapak tua terbangun, tiga cewek remaja masih tertawa-tawa,
dua laki-laki menoleh sebentar, si ibu buru-buru membereskan kantung belanjaannya siap untuk berdiri.
Dan kulihat dari ekor mataku,
sang gadis tampak oleng,
tubuhnya terlalu condong ke arah rel,
Gadis ini akan bunuh diri!
aku yang berada paling dekat dengannya, dan sepertinya satu-satunya yang sadar akan keganjilan postur tubuh gadis itu buru-buru bergerak maju
menyambar tangan kurus si gadis,
dan sedetik kemudian, kami telah terjun bebas ke arah rel.
Dan tiba-tiba, waktu terasa berjalan begitu lambat.

Dalam jatuh kami, yang terasa begitu lambat namun sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik itu,
sang gadis menoleh padaku, kemudian tersenyum lemah.
Matanya tampak sayu dan kosong.
Apa yang kau lakukan?! Jangan mati! Jangan mati! jeritku tanpa suara.
Gadis itu menyeringai, memamerkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Bukankah ini yang kau mau dari dulu? Bisiknya, seolah-olah tepat di telingaku, tengkukku tiba-tiba seperti dialiri hawa dingin.
Apa maksudmu?
Dia tertawa kering. Aku selalu melihatmu, kau selalu memandang kosong pada rel kereta itu. Dan berpikir bagaimana rasanya jika kau menjatuhkan dirimu kesana. Ya, kan?
Aku menelan ludah gugup.
Yang aku lakukan, lanjutnya, cuma memberimu alasan untuk itu!
Tapi kau menarikku! Protesku.
Aku tidak menarikmu, bodoh. Sahutnya sambil tersenyum ringan. Kaulah yang mengikutiku!
Aku menatapnya bingung. Si gadis malah tertawa terkikik geli sekarang.
Tapi, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa begitu bersemangat,
jantungku berdetak begitu kerasnya sampai terasa mau meledak.
Gadis itu masih tergelak riang, aku pun tertawa lucu melihatnya.

Kemudian dalam hitungan detik,
terdengar bunyi krak keras, dan ada sesuatu yang hangat mengalir di pelipisku.
Sayup-sayup dapat kudengar deru suara kereta yang kian mendekat,
dan pekik panik bercampur ngeri orang-orang yang berkerumun disekitarku.
Gadis itu menghilang, menguap entah kemana,
meninggalkan aku yang terkulai tak berdaya di atas barisan rel.
Sendirian.

“Kepada penumpang yang terhormat. Kereta akan sampai dalam beberapa menit. Silakan menunggu di belakang garis kuning. Persilahkan penumpang untuk turun terlebih dahulu, berhati-hatilah dan jaga barang anda,”
Aku memejamkan mata dan tersenyum
Aku pulang.

Pengecut

Ada telaga biru tenang tak bertepi di hatimu.
Ada semburat tipis cahaya mentari di matamu.
Ada hangat di setiap garis telapak tanganmu.

Dan aku pergi karena kau punya semua itu.

Bukan, bukan karena aku tidak suka.

Hanya, aku mencari yang lebih pantas untukku.

Yang lebih sederhana, yang lebih sederhana,
dan kau terlalu mewah untukku.

Jadi Kapan, Idiot?!

Iya, jadi kapan kamu mau jalan?

Bisanya ngomong doang, ndobos kamu!
Bilangnya mau mbantu mereka, cuma manis di mulut saja!
Ngagul terus, ga ada berhentinya, buktinya mana?!

Jadi kapan dong, sayang, separuh diriku, kamu yang ada di bagian jiwaku.
Kapan kamu mau bergerak beneran?
Kapan aku bisa lihat tangan kamu, senyum kamu, dan usaha kamu,
dalam bentuk nyata, bukan cuma seperti yang ada dalam khayalanmu saja!

Kapan dong, diriku.
Kapan kamu bisa meluangkan waktumu untuk mewujudkan rencanamu?
Lihat,kan. Dua tahun lalu kamu berjanji hal yang sama, tapi mana buktinya?
Kosong.
Kamu masih saja lebih mementingkan kuliahmu, waktu ngenetmu, waktu bermalas-malasanmu, waktu nontonmu, ketimbang melakukan apa yang sudah menghantuimu sejak sekian lama.
Kamu sih kebanyakan bikin alasan.
Ya capek lah, ya takut ga bisa bagi waktu lah, ya ongkosnya mahal lah.
Katanya mau bantu? Katanya mau berkontribusi?
Ndobos kamu!

Aku benci kamu!
Aku benci kamu!

Elegan dan Buku TTS

Perempuan itu duduk di depanku di gerbong kereta yang mulai sesak ini.
Berambut panjang lurus menjuntai sampai punggung, dengan wajah tegas dan make up tipis.
Perempuan ini menyedot perhatianku sepanjang perjalanan,
Dia sungguh elegan dan tampak berkelas!

Perempuan itu tidak cantik, tidak wah, tidak begermelapan perhiasan disana-sini
Bajunya cuma kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka,
memperlihatkan kaos oranye bertuliskan sebuah merk kaos terkenal, aku rasa kaos dia kaos palsu
Celana jeans nya bukan jenis skinny jeans yang sedang populer di kalangan anak muda,
cuma celana jeans biru pudar yang lebar dan modelnya ketinggalan jaman,
aku menunduk dan melihat sendalnya juga kelihatannya bukan sendal mahal,
cuma sendal busa bersol tebal yang pernah kulihat di obral di pinggir jalan.

Tanpa sadar pandanganku melekat pada perempuan yang duduk persis di depanku ini,
aku memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Si perempuan yang aku taksir berumur sekitar tiga puluhan ini mengibaskan rambut dengan elegan,
mengeluarkan earphone dan dengan elegan memasangnya pada handphonenya,
lalu mendengarkan musik,
lalu dengan elegannya menghela nafas ketika tampaknya ada sesuatu yang salah pada handphone-nya,
mencabut earphone dan memasukkan handphone ke dalam tas putihnya.
Wajahnya tenang, kelihatan seperti wanita yang telah matang dan telah mengecap pendidikan tinggi,
atau minimal, tata krama tinggi,
sebab auranya kuat sekali,
jika saja pakaian yang ia kenakan tampak mahal sedikit, tentulah aku sudah mengira ia ini anak dari datuk atau keturunan bangsawan yang rumahnya besar bak istana.
Orang-orang yang kaya, pastilah iri dengan aura elegansi perempuan ini,
sebab auranya sangat natural, tanpa pretensi.
Seperti memang sudah begitu adanya, tanpa harus dibuat-buat atau diembel-embeli barang-barang ber-merek.
Luar biasa, perempuan ini sungguh luar biasa.
Aku terpana dibuatnya.

Tapi perempuan ini tampaknya bukan orang kaya,
apalagi putri bangsawan.

Lalu, saudara-saudara, dengan gaya yang sangat elegan dan berkelas,
dia mengeluarkan sebuah buku dari tas putihnya,
dan sebuah pulpen.
Lalu menekuri buku tersebut, keningnya sesekali berkerut serius.
Aku hampir-hampir saja mengira kalau buku tipis itu mungkin sebuah essay mahapenting yang akan merubah nasib manusia, atau mungkin catatan penting seorang manager atau CEO suatu perusahaan besar,
atau mungkin bahan thesis s-3 nya dengan bahasa njlimet dan rumit.
Ekspresi dan gaya membaca perempuan ini sungguh sungguh tampak intelek dan berkelas, sekali lagi, tanpa dibuat-buat.
Tapi bukan, saudara-saudara, ternyata buku itu bukan essay mahapenting, bukan juga catatan seorang manager atau CEO, dan juga bukan bahan thesis s-3 yang menggunakan bahasa planet.
Itu cuma buku TTS! TE TE ES!
Iya, buku teka-teki silang!
Buku tipis yang cover-nya bergambar artis lokal murahan yang isinya teka-teki silang dan permainan kata.
Buku yang dijual seharga lima ratus rupiah dan nyaris tidak berisi apa-apa,
dan dia memberikan ekspresi super intelek hanya untuk buku itu?
Ini menarik.

Dan aku pun kembali tenggelam pada aura kuat perempuan yang seperti memiliki harga diri dan dignity yang tinggi itu.
Aku kagum padanya, pada gerak-geriknya yang tampak elegan dan sedikit angkuh itu,
terlebih lagi, ini natural ada padanya, bukan dibuat-buat seperti wanita-wanita orang kaya baru yang membuatku muak.

Tapi tiba-tiba, kereta berhenti
Aku sudah sampai di stasiun tujuanku,
Aku bersungut-sungut bangkit dengan tak rela,
meninggalkan “berlian di antara jerami”-ku itu.
Melirik untuk yang terakhir kalinya,
aku mendapati dia masih sibuk berkutat dengan bukunya.

Aku menghela nafas kecil dan tersenyum,
Seorang perempuan dengan gayanya yang begitu elegan, intelek dan berkelas,
namun bagaimanapun juga,
tidak menghapus kenyataan bahwa buku di tangannya cuma buku tipis murahan teka-teki silang.

Dan aku melangkah keluar kereta dengan senyum lebar.

Jalang

23 November 2009, 05.30am

Kereta ini masih sepi, dinginnya pendingin menusuk,
menyebarkan hawa beku di tengkuk dan seluruh syaraf di tubuhku.

Kereta ini masih sangat sangat sepi.
Di dalam gerbong hanya ada aku, dan seorang lelaki necis berambut klimis.

Walaupun gerbong itu nyaris kosong, aku enggan duduk dan memilih berdiri di sudut gerbong.
Laki-laki necis ini, entah dengan alasan apa, juga memilih berdiri persis di depanku.

Suara kereta berdesis mengaung di telingaku, sesekali berhenti di stasiun selama beberapa menit.
Namun pintu kereta segera menutup ketika tampaknya tidak ada calon penumpang lain yang akan masuk.
Dan gerbong ini pun masih saja sunyi.
Cuma ada aku, dan laki-laki yang wangi minyak rambutnya semerbak.
Kami berdiri di sudut gerbong. Berdua.
Cuma suara deru mesin kereta, dan semilir angin dari pendingin menemani.

Kereta menderu cepat menyusuri rel.
Lalu mulai memasuki terowongan panjang.
Mendadak gerbong diliputi kegelapan,
dan saat itulah aku melihat sang lelaki necis meringsek maju ke arahku.
Aku terkesiap kaget,
belum sanggup aku bersuara, si lelaki mendorongku paksa
menghimpit tubuhku ke dinding gerbong.
Aku dapat mencium aroma minyak rambut bercampur dengan rokok,
aku menggeliat berusaha mendorongnya menjauh dari tubuhku,
percuma
usahaku hanya di saksikan bisu oleh kursi-kursi penumpang kosong dan derit rel
dan kegelapan yang mengunci.

Lelaki ini kemudian menarik bajuku kuat-kuat sampai aku rasa bajuku akan robek,
aku menjerit tertahan,
menahan tangis,
dia menyeringai, matanya menelusuri seluruh badanku, dan berhenti di kerah bajuku.
Tidak! Jeritku dalam hati. Dia akan memperkosaku!
Tidak! Lelaki Jalang!

Aku memberontak, namun sekuat apapun aku mencoba, lelaki jalang itu masih saja memepeti tubuhku
Tatapannya serasa menelanjangi tubuhku.
Aku benci
Aku jijik pada si Jalang ini.
Kotor, si jalang ini mengotori tubuhku dengan jari-jarinya yang busuk.

Ketika akhirnya aku pasrah dan memejamkan mataku kuat-kuat,
berharap seseorang akan segera datang menolongku, entah siapa.
Kereta keluar dari terowongan.

Seketika gerbong di penuhi dengan cahaya matahari yang masuk menembus kaca,
dan aku membuka mata.

Menemukan diriku berdiri di sudut gerbong,
dan laki-laki necis itu di depanku.
Tenang, sibuk mendengarkan Mp3 player dan memainkan handphone-nya.
Baju ku tidak robek, tidak pula berantakan.
Aku termenung, mencoba memahami momen sekian menit yang baru saja aku lalui.

Menghela nafas, aku bersandar pada dinding gerbong.
Tampaknya, bukan lelaki ini yang jalang,
Tapi aku.

note : tulisan ngawur yang di ilhami oleh judul sebuah film dan sedetik momen di dalam gerbong kereta

Dingin

Hari itu hujan begitu derasnya ketika ia muncul di depan rumahku.
Bajunya basah kuyup dan badannya gemetar kedinginan.
Aku berlari menyongsongnya,
menyentuh tangan kecilnya,
begitu dingin,
dan aku memeluknya, membisikinya semua akan baik-baik saja.

Anak itu sering muncul di depan pintu rumahku di kala hujan,
terdiam mematung,
tiada sedikitpun air mata jatuh,
tapi tatapan kosong itu menjawab semuanya.

Aku lalu mengeringkan badannya,
memberinya baju atau sarung untuk di pakainya sementara,
menyeduhkan segelas susu coklat hangat,
dan dia masih saja terdiam dengan tatapan kosong,
dan aku memeluknya,
badannya begitu ringkih dan dingin.

Sekarang tiap hujan mengguyur basah kotaku, aku punya kegiatan baru,
mengecek pintu rumah,
terkadang anak itu disana, mengetuk pintu rumahku dengan tangan kurusnya,
lain waktu ia tidak muncul sama sekali,
yang entah membuat aku lega atau justru lebih khawatir.

Hari itu hari ketiga di bulan November,
sedari pagi hujan turun tak berhenti,
aku sedang menikmati segelas teh hangat dan berkutat dengan pekerjaanku
ketika kudengar suara pintu di ketuk agak kasar.

Bukan anak itu,
melainkan seorang wanita paruh baya berwajah tirus dan pucat,
yang ku kenali sebagai ibu anak itu,
tetanggaku.
Baju daster tipisnya basah kuyup oleh hujan,
aku mengenali lebam-lebam kebiruan di wajahnya, dan bibirnya yang tipis berdarah.

“Mbak! Mbak! Tolong mbak, Bara mbak! Bara!” Wanita itu berkata cepat,
Kepanikan tergambar jelas dalam wajah dan suaranya,
Belum sempat aku berkata apa-apa, wanita itu menyambar lenganku,
menarikku menuju rumahnya,
dimana aku menemukan semuanya sudah terlambat.

***

Seharusnya saya mendengar saran mbak, seharusnya saya berpisah dengan suami saya dari dulu ketika ia mulai kasar, seharusnya saya tahu kalau suami saya tidak akan puas dengan hanya menyiksa saya..Seharusnya saya…” sayup-sayup dalam sedu sedan tangisnya, wanita itu mencoba menjelaskan, suaranya dalam penuh dengan penyesalan, tak henti-hentinya ia menangis sedari tadi. Ia menatapku lemah, dan berkata getir,“Seharusnya saya bisa mencegah semua ini terjadi……”

Aku tak sanggup berkata apa-apa.
Air mata yang sedari tadi menggelayut di pelupuk mataku pun tumpah.

***

Aku memandang Bara,
anak kecil yang selalu muncul di depan rumahku ketika hari hujan,
terpaksa mengungsi sementara ke rumahku tiap kali “perang” pecah di rumahnya,
Anak selalu yang berdiri mematung dengan tatapan kosong,
yang selalu ku seduhkan segelas susu coklat hangat dan meminumnya cepat tanpa banyak bicara.

Bara,
Ia kini terbaring tak bergerak,
dan tak lagi bernafas.
Aku menyentuh lengan kurusnya.
Dingin.
Entah karena hawa ruangan Rumah sakit ini atau karena di luar hujan deras.
Dia masih saja terdiam tak bergerak, bibirnya pucat membiru dan badannya terasa beku,
begitu dingin,
dan aku memeluknya, membisikinya,
mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.

***

Note:
Untuk Bara-Bara lainnya, dan untuk semua wanita korban Domestic Violence.
Jangan pernah diam untuk kekerasan.

Older Posts »