Hari itu hujan begitu derasnya ketika ia muncul di depan rumahku.
Bajunya basah kuyup dan badannya gemetar kedinginan.
Aku berlari menyongsongnya,
menyentuh tangan kecilnya,
begitu dingin,
dan aku memeluknya, membisikinya semua akan baik-baik saja.
Anak itu sering muncul di depan pintu rumahku di kala hujan,
terdiam mematung,
tiada sedikitpun air mata jatuh,
tapi tatapan kosong itu menjawab semuanya.
Aku lalu mengeringkan badannya,
memberinya baju atau sarung untuk di pakainya sementara,
menyeduhkan segelas susu coklat hangat,
dan dia masih saja terdiam dengan tatapan kosong,
dan aku memeluknya,
badannya begitu ringkih dan dingin.
Sekarang tiap hujan mengguyur basah kotaku, aku punya kegiatan baru,
mengecek pintu rumah,
terkadang anak itu disana, mengetuk pintu rumahku dengan tangan kurusnya,
lain waktu ia tidak muncul sama sekali,
yang entah membuat aku lega atau justru lebih khawatir.
Hari itu hari ketiga di bulan November,
sedari pagi hujan turun tak berhenti,
aku sedang menikmati segelas teh hangat dan berkutat dengan pekerjaanku
ketika kudengar suara pintu di ketuk agak kasar.
Bukan anak itu,
melainkan seorang wanita paruh baya berwajah tirus dan pucat,
yang ku kenali sebagai ibu anak itu,
tetanggaku.
Baju daster tipisnya basah kuyup oleh hujan,
aku mengenali lebam-lebam kebiruan di wajahnya, dan bibirnya yang tipis berdarah.
“Mbak! Mbak! Tolong mbak, Bara mbak! Bara!” Wanita itu berkata cepat,
Kepanikan tergambar jelas dalam wajah dan suaranya,
Belum sempat aku berkata apa-apa, wanita itu menyambar lenganku,
menarikku menuju rumahnya,
dimana aku menemukan semuanya sudah terlambat.
***
“Seharusnya saya mendengar saran mbak, seharusnya saya berpisah dengan suami saya dari dulu ketika ia mulai kasar, seharusnya saya tahu kalau suami saya tidak akan puas dengan hanya menyiksa saya..Seharusnya saya…” sayup-sayup dalam sedu sedan tangisnya, wanita itu mencoba menjelaskan, suaranya dalam penuh dengan penyesalan, tak henti-hentinya ia menangis sedari tadi. Ia menatapku lemah, dan berkata getir,“Seharusnya saya bisa mencegah semua ini terjadi……”
Aku tak sanggup berkata apa-apa.
Air mata yang sedari tadi menggelayut di pelupuk mataku pun tumpah.
***
Aku memandang Bara,
anak kecil yang selalu muncul di depan rumahku ketika hari hujan,
terpaksa mengungsi sementara ke rumahku tiap kali “perang” pecah di rumahnya,
Anak selalu yang berdiri mematung dengan tatapan kosong,
yang selalu ku seduhkan segelas susu coklat hangat dan meminumnya cepat tanpa banyak bicara.
Bara,
Ia kini terbaring tak bergerak,
dan tak lagi bernafas.
Aku menyentuh lengan kurusnya.
Dingin.
Entah karena hawa ruangan Rumah sakit ini atau karena di luar hujan deras.
Dia masih saja terdiam tak bergerak, bibirnya pucat membiru dan badannya terasa beku,
begitu dingin,
dan aku memeluknya, membisikinya,
mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
***
Note:
Untuk Bara-Bara lainnya, dan untuk semua wanita korban Domestic Violence.
Jangan pernah diam untuk kekerasan.